| Indeks Artikel |
|---|
| Pakar Isyarat |
| Bahasa Isyarat |
| Tak Aspiratif |
| Semua Halaman |
Tunarungu Harus Diposisikan sebagai Pakar Isyarat
Jakarta, Kompas - Sesuai keputusan kongres tunarungu sedunia, para penyandang tunarungu harus ditempatkan sebagai pakar isyarat karena sebenarnya para tunarungu itu sendirilah yang mengerti kebutuhan mereka. Namun, yang terjadi di beberapa negara-termasuk di Indonesia-bahasa isyarat justru dibuat oleh orang-orang yang bukan tunarungu.
"Ini merupakan pelecehan terhadap hak-hak tunarungu," kata Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Pusat Dimyati Hakim di sela-sela seminar dan lokakarya bertema "Implementasi Aksesibilitas di Segala Bidang dalam Rangka Peningkatan Kualitas Hidup Kaum Tunarungu" di Jakarta, Senin (12/7).
Menurut Dimyati, berbahasa isyarat dalam bahasa Indonesia telah banyak menimbulkan persoalan. Sebab, bahasa Indonesia itu memiliki struktur bahasa yang kalimatnya menggunakan awalan, sisipan, dan akhiran.
Bahasa Indonesia juga memiliki banyak kosakata mengandung satu makna yang sama sehingga menuntut keanekaragaman kosaisyarat untuk makna sebuah kosakata dimaksud. Sementara jumlah kosaisyarat yang diterjemahkan-mulai ujung rambut hingga ujung kaki-memiliki ruang yang sangat terbatas.
Bila beberapa kosakata mengandung satu makna yang sama diterjemahkan dengan kosaisyarat pada satu obyek di depan pengisyarat, akan terkesan tumpang tindih yang mengaburkan daya tangkap mata lawan bicaranya. Itulah salah satu kendala utama dalam berbahasa isyarat yang baku, seperti yang digunakan dalam kamus Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI).
Bila bahasa isyarat SIBI itu digunakan dalam bahasa pergaulan tunarungu di masyarakat, penggunaannya relatif sulit diterima karena mengandung banyak kelemahan dan problem. Padahal, isyarat pada bahasa pergaulan dalam komunitas tunarungu di masyarakat haruslah memenuhi tiga unsur utama, yaitu kecepatan, keringkasan, dan kepahaman. Sementara bahasa isyarat SIBI tidak dapat memenuhi ketiga unsur tersebut.
Kenyataan inilah yang menyebabkan timbulnya dua pandangan berbeda dalam penggunaan bahasa isyarat di Indonesia. Pertama, bahasa isyarat struktural yang berkaitan dengan struktur bahasa Indonesia, dan kedua, isyarat konseptual yang berkaitan dengan karakter budaya komunikasi tunarungu di Indonesia dan seluruh dunia.
| Comments |
|











Kirimkan artikel/berita sekarang.