You are here: Home Berita Pakar Isyarat

Komunitas Alumni Tunarungu Pangudi Luhur [KOTA PL]

Pakar Isyarat

E-mail Cetak PDF
(2 votes, average: 1.50 out of 5)
Indeks Artikel
Pakar Isyarat
Bahasa Isyarat
Tak Aspiratif
Semua Halaman

Tunarungu Harus Diposisikan sebagai Pakar Isyarat

Jakarta, Kompas - Sesuai keputusan kongres tunarungu sedunia, para penyandang tunarungu harus ditempatkan sebagai pakar isyarat karena sebenarnya para tunarungu itu sendirilah yang mengerti kebutuhan mereka. Namun, yang terjadi di beberapa negara-termasuk di Indonesia-bahasa isyarat justru dibuat oleh orang-orang yang bukan tunarungu.

"Ini merupakan pelecehan terhadap hak-hak tunarungu," kata Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Pusat Dimyati Hakim di sela-sela seminar dan lokakarya bertema "Implementasi Aksesibilitas di Segala Bidang dalam Rangka Peningkatan Kualitas Hidup Kaum Tunarungu" di Jakarta, Senin (12/7).

Menurut Dimyati, berbahasa isyarat dalam bahasa Indonesia telah banyak menimbulkan persoalan. Sebab, bahasa Indonesia itu memiliki struktur bahasa yang kalimatnya menggunakan awalan, sisipan, dan akhiran.

Bahasa Indonesia juga memiliki banyak kosakata mengandung satu makna yang sama sehingga menuntut keanekaragaman kosaisyarat untuk makna sebuah kosakata dimaksud. Sementara jumlah kosaisyarat yang diterjemahkan-mulai ujung rambut hingga ujung kaki-memiliki ruang yang sangat terbatas.

Bila beberapa kosakata mengandung satu makna yang sama diterjemahkan dengan kosaisyarat pada satu obyek di depan pengisyarat, akan terkesan tumpang tindih yang mengaburkan daya tangkap mata lawan bicaranya. Itulah salah satu kendala utama dalam berbahasa isyarat yang baku, seperti yang digunakan dalam kamus Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI).

Bila bahasa isyarat SIBI itu digunakan dalam bahasa pergaulan tunarungu di masyarakat, penggunaannya relatif sulit diterima karena mengandung banyak kelemahan dan problem. Padahal, isyarat pada bahasa pergaulan dalam komunitas tunarungu di masyarakat haruslah memenuhi tiga unsur utama, yaitu kecepatan, keringkasan, dan kepahaman. Sementara bahasa isyarat SIBI tidak dapat memenuhi ketiga unsur tersebut.

Kenyataan inilah yang menyebabkan timbulnya dua pandangan berbeda dalam penggunaan bahasa isyarat di Indonesia. Pertama, bahasa isyarat struktural yang berkaitan dengan struktur bahasa Indonesia, dan kedua, isyarat konseptual yang berkaitan dengan karakter budaya komunikasi tunarungu di Indonesia dan seluruh dunia.



Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 03 November 2008 19:56 )  

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday47
mod_vvisit_counterYesterday38
mod_vvisit_counterThis week162
mod_vvisit_counterThis month1084
mod_vvisit_counterAll12100

Redaksi

articlesKirimkan artikel/berita sekarang.

Selanjutnya..